Quarter Life Crisis: Kenapa Usia 20-an Bisa Bikin Kita Bingung?
| Sumber: magnific.com |
Pernah nggak sih kamu tiba-tiba kepikiran, “Sebenarnya aku mau jadi apa, ya?” atau “Kok kayaknya semua orang sudah punya jalan masing-masing, sementara aku masih bingung mau ke mana?” Kalau pernah, tenang, kamu nggak sendirian. Banyak anak muda di usia 20-an yang merasakan hal serupa. Mulai dari bingung menentukan karier, khawatir soal masa depan, merasa tertinggal dari teman sebaya, sampai terlalu sering membandingkan diri sendiri dengan kehidupan orang lain di media sosial. Fase seperti ini sering disebut sebagai quarter life crisis.
Quarter life crisis sebenarnya bukan sekadar istilah untuk menggambarkan anak muda yang sedang bingung atau galau soal hidup. Fenomena ini sudah banyak dibahas dalam penelitian. Rosyiddin dan Afandi (2023), misalnya, menjelaskan bahwa quarter life crisis dapat ditandai dengan keraguan terhadap diri sendiri, rasa tidak berdaya, dan kekhawatiran akan kegagalan. Jadi, kalau belakangan ini kamu sering merasa bingung atau mempertanyakan banyak hal tentang hidup, bukan berarti ada yang salah dengan kamu.
Kenapa sih usia 20-an terasa membingungkan?
Psikolog Jeffrey Arnett memperkenalkan istilah emerging adulthood untuk menggambarkan masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Fase ini biasanya terjadi mulai dari akhir masa remaja hingga usia 20-an. Di masa ini, kita mulai mencoba banyak hal untuk mencari tahu siapa diri kita, apa yang kita inginkan, dan kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin kita jalani (Arnett, 2000).
Makanya, wajar kalau di usia 20-an kita masih sering berubah pikiran. Hari ini merasa ingin bekerja, beberapa bulan kemudian ingin lanjut kuliah. Sudah punya rencana, tetapi tiba-tiba berubah karena menemukan kesempatan baru. Atau bahkan belum tahu sama sekali apa yang ingin dilakukan. Di fase ini, kita memang sedang banyak mencoba dan mengeksplorasi berbagai kemungkinan.
Masalahnya, di saat kita masih mencari tahu arah hidup, kita juga mulai melihat orang lain yang sepertinya sudah lebih dulu menemukan jawabannya. Teman sudah bekerja, ada yang lanjut S2, mulai membangun bisnis, punya penghasilan sendiri, atau bahkan sudah menikah. Dari situ, tanpa sadar kita mulai membandingkan diri sendiri dengan mereka. “Kenapa aku belum seperti dia?” atau “Jangan-jangan aku ketinggalan?” Padahal, kita sering lupa bahwa setiap orang punya perjalanan yang berbeda. Apa yang kita lihat dari kehidupan orang lain biasanya hanya bagian yang mereka pilih untuk ditampilkan. Kita nggak tahu berapa banyak proses, kegagalan, atau keraguan yang mereka lewati sebelum sampai di titik tersebut. Jadi, ketika hidup kita terlihat berbeda dari orang lain, bukan berarti kita sedang tertinggal. Bisa jadi, kita memang sedang berjalan di jalan yang berbeda.
Ternyata, masalah keuangan juga punya peran
Selain soal karier dan masa depan, keuangan juga bisa membuat usia 20-an terasa semakin berat. Apalagi setelah lulus kuliah dan mulai dituntut untuk mandiri. Kita ingin punya penghasilan sendiri, ingin membantu keluarga, ingin menabung untuk masa depan, tetapi di saat yang sama biaya hidup terus berjalan. Belum lagi kalau kondisi pekerjaan sedang tidak mudah. Hal-hal seperti ini tentu bisa menambah tekanan yang kita rasakan.
Menariknya, cara kita mengelola uang ternyata sudah banyak dipengaruhi oleh keluarga sejak kita masih kecil. LeBaron dan Kelley (2021) menjelaskan bahwa keluarga menjadi salah satu tempat pertama bagi seseorang untuk belajar tentang keuangan. Kita bisa belajar dari cara orang tua mengatur pengeluaran, bagaimana mereka membicarakan uang, bagaimana mereka mengambil keputusan finansial, sampai pengalaman ketika kita mulai diberi tanggung jawab untuk mengelola uang sendiri.
Hal ini juga sejalan dengan penelitian Pak, Fan, dan Chatterjee (2024). Temuan ini menemukan bahwa pengalaman belajar mengelola uang dari orang tua dapat membantu membentuk kemampuan finansial yang lebih baik ketika seseorang memasuki usia dewasa. Kemampuan tersebut kemudian berkaitan dengan kondisi finansial yang lebih baik. Jadi, kemampuan mengelola uang bukan sesuatu yang tiba-tiba harus kita kuasai setelah mendapatkan pekerjaan pertama. Kebiasaan dan pengalaman yang sudah terbentuk sejak dulu ternyata ikut memengaruhi bagaimana kita menghadapi masalah keuangan ketika dewasa.
Kita Harus Selalu Kuat?
Ketika sedang menghadapi masalah, kita sering mendengar nasihat seperti “harus lebih kuat”, “jangan terlalu overthinking”, atau “coba ubah mindset”. Memang, kemampuan untuk bangkit ketika menghadapi masalah atau yang disebut sebagai resiliensi itu penting. Namun, bukan berarti semua masalah bisa selesai hanya dengan berpikir positif.
Penelitian Ranta et al. (2024) terhadap dewasa muda di beberapa negara menunjukkan bahwa masalah finansial yang nyata tetap dapat memengaruhi kesejahteraan seseorang. Resiliensi memang dapat membantu kita menghadapi situasi sulit, tetapi tidak otomatis menghilangkan dampak dari tekanan finansial yang sedang terjadi.
Hal ini penting untuk dipahami karena tidak semua masalah yang dialami Gen Z berasal dari diri sendiri. Sulitnya mendapatkan pekerjaan, biaya hidup yang meningkat, atau kondisi ekonomi yang tidak menentu adalah hal-hal yang juga dipengaruhi oleh kondisi di luar diri kita. Jadi, ketika kita sedang kesulitan, bukan berarti kita kurang kuat atau kurang berusaha. Ada kalanya kita memang membutuhkan bantuan dan dukungan dari orang lain.
Dukungan tersebut bisa datang dari keluarga, teman, mentor, kampus, atau tenaga profesional jika memang dibutuhkan. Meminta bantuan bukan berarti kita gagal menghadapi hidup. Justru, mengetahui kapan kita membutuhkan bantuan juga merupakan bagian dari belajar menjadi dewasa.
Jadi, Harus Mulai dari Mana?
Nggak ada satu cara yang bisa langsung menghilangkan quarter life crisis. Namun, ada beberapa hal sederhana yang bisa mulai kita lakukan. Pertama, berhenti terlalu sering menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran untuk menilai diri sendiri. Usia 20-an memang merupakan masa untuk mencoba, belajar, dan mencari tahu. Jadi, nggak semua orang harus memiliki jalan yang sama atau mencapai sesuatu di usia yang sama.
Kedua, mulai belajar mengelola keuangan. Nggak harus langsung punya tabungan besar atau memahami semua hal tentang investasi. Mulai saja dari hal sederhana seperti mengetahui ke mana uang kita pergi, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta belajar membuat perencanaan keuangan yang sesuai dengan kondisi kita.
Ketiga, jangan takut untuk ngobrol dengan keluarga. Kalau memungkinkan, ceritakan juga kekhawatiran, rencana, dan kondisi yang sedang kita hadapi, bukan hanya pencapaian. Keluarga bisa menjadi tempat untuk mendapatkan dukungan sekaligus belajar banyak hal, termasuk tentang bagaimana menghadapi kehidupan setelah memasuki usia dewasa.
Yang terakhir, kasih diri sendiri waktu. Kita tidak harus langsung tahu ingin menjadi apa, bekerja di mana, atau seperti apa kehidupan kita lima tahun lagi. Beberapa hal memang baru bisa kita pahami setelah kita mencoba menjalaninya. Bisa saja rencana yang kita punya sekarang berubah beberapa tahun kemudian, dan itu bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
Jadi, Apakah Kita Harus Berdamai dengan Quarter Life Crisis?
Mungkin berdamai bukan berarti kita harus membuat semua rasa bingung dan khawatir itu hilang. Bisa jadi, berdamai berarti menerima bahwa memang ada banyak hal dalam hidup yang belum kita ketahui sekarang. Quarter life crisis memang bisa terasa melelahkan, tetapi fase ini juga bisa menjadi kesempatan untuk lebih mengenal diri sendiri. Kita bisa mulai bertanya, pekerjaan seperti apa yang sebenarnya kita inginkan, kehidupan seperti apa yang ingin kita bangun, apa yang benar-benar penting bagi kita, dan apakah standar kesuksesan yang selama ini kita kejar memang berasal dari diri sendiri atau justru dari lingkungan sekitar.
Kita mungkin belum punya semua jawabannya hari ini. Bahkan, beberapa jawaban mungkin akan berubah seiring bertambahnya pengalaman. Dan itu tidak apa-apa. Karena menjadi dewasa bukan berarti kita harus tahu semuanya sejak awal. Menjadi dewasa juga berarti berani mencoba, belajar dari pilihan yang kita buat, menerima bahwa beberapa hal tidak berjalan sesuai rencana, dan tetap melangkah meskipun kita belum tahu persis akan sampai di mana. Jadi, kalau sekarang kamu sedang berada di fase bingung, merasa tertinggal, atau belum tahu harus mulai dari mana, mungkin kamu bukan sedang kehilangan arah. Kamu hanya sedang mencari jalan yang paling sesuai untukmu.
Daftar Pustaka
Arnett, J. J. (2000). Emerging adulthood: A theory of development from the late teens through the twenties. American Psychologist, 55(5), 469–480. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.5.469
LeBaron, A. B., & Kelley, H. H. (2021). Financial socialization: A decade in review. Journal of Family and Economic Issues, 42, 195–206. https://doi.org/10.1007/s10834-020-09736-2
Pak, T.-Y., Fan, L., & Chatterjee, S. (2024). Financial socialization and financial well-being in early adulthood: The mediating role of financial capability. Family Relations, 73(3), 1664–1685. https://doi.org/10.1111/fare.12959
Ranta, M., Li, L., Vosylis, R., Sorgente, A., Crespo, C., Fonseca, G., Lanz, M., Lep, Ž., Lonka, K., Relvas, A. P., Salmela-Aro, K., Zupančič, M., & Serido, J. (2024). Financial loss and financial well-being of emerging adults during COVID-19: The limitations of psychological resilience. Journal of Financial Counseling and Planning, 35(2).
Rosyiddin, A. A. A., & Afandi, N. A. (2023). Quarter-life crisis in Generation Z adults. Proceedings of International Conference on Psychology, Mental Health, Religion, and Spirituality.