Katanya Politik Nggak Ada Hubungannya Sama Parenting. Yakin?

06.56

Sumber: Magnific.com



Pernah ngga sih kamu melihat seorang ibu yang sedang menyiapkan MPASI untuk anaknya? Mungkin kelihatannya sederhana. Memilih bahan makanan, memasak, mengatur tekstur, sampai memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi. Tapi, pernah ngga kita berpikir bahwa kemampuan seorang ibu untuk menyediakan makanan bergizi ternyata ngga hanya bergantung pada pengetahuan parenting yang dimilikinya?

Bagaimana kalau harga bahan makanan sedang naik? Bagaimana kalau pendapatan keluarga terbatas? Atau bagaimana kalau bahan makanan yang biasanya mudah dijangkau tiba-tiba menjadi lebih mahal? Di situ kita mulai melihat bahwa persoalan parenting ternyata ngga selalu berhenti di dalam rumah.

Selama ini, politik mungkin dianggap sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan keluarga. Padahal, keputusan yang dibuat oleh pemerintah dapat memengaruhi banyak hal yang kita temui setiap hari. Mulai dari harga pangan, akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga kesempatan anak mendapatkan lingkungan tumbuh kembang yang layak.

Isi Piring Anak ternyata Ikut Ditentukan Harga di Pasar

Coba kita lihat angkanya. BPS mencatat inflasi bulanan Mei 2026 sebesar 0,28 persen. Yang paling mendorongnya? Cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan beras. Sebulan sebelumnya, beras, daging ayam, ikan segar, minyak goreng, dan telur ayam ras juga masuk daftar penyumbang inflasi tahunan terbesar. Nah, coba bandingkan dengan isi menu MPASI di rumahmu. Mirip, kan? Dan menurut laporan itu, kenaikan harga pangan paling cepat terasa di rumah tangga berpenghasilan rendah. Efeknya bisa dilihat di angka stunting. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat prevalensinya turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024. Itu kabar baik, dan patut diapresiasi. Tapi Kemenkes sendiri mengakui bahwa angkanya jauh lebih tinggi pada kelompok pendapatan sangat rendah dibandingkan kelompok pendapatan tinggi. Jadi dua ibu yang sama-sama rajin belajar soal gizi bisa menghadapi hasil yang berbeda. Bukan karena yang satu lebih peduli, tapi karena ruang geraknya ngga sama.

Ketika Aturan Sekolah Memengaruhi Kehidupan Keluarga

Urusan sekolah pun begitu. Sejak 2025, penerimaan murid baru memakai sistem SPMB dengan empat jalur, yaitu domisili, afirmasi, prestasi, dan mutasi. Jalur zonasi diganti jalur domisili, supaya anak bisa bersekolah lebih dekat dari rumah. Kedengarannya teknis banget, ya? Padahal buat orang tua, ini menyangkut hal yang sangat sehari-hari. Anak sekolah di mana, berangkat jam berapa, naik apa, dan berapa ongkosnya tiap hari.

Ketika Anak Dituntut Siap Sebelum Waktunya

Pernah ngga sih mendengar orang tua yang khawatir karena anaknya belum bisa membaca atau berhitung padahal sebentar lagi masuk SD? Kekhawatiran seperti ini cukup sering kita temui. Ada anggapan bahwa anak harus sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung) sebelum masuk SD. Akibatnya, sebagian orang tua merasa perlu memberikan les tambahan sejak anak masih duduk di PAUD atau TK. Padahal, anak usia dini masih berada dalam tahap perkembangan yang berbeda dengan anak usia sekolah dasar. Mereka tidak hanya perlu belajar mengenal huruf dan angka, tetapi juga mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bersosialisasi, mengelola emosi, dan belajar mandiri. Itulah mengapa kemampuan calistung tidak boleh dijadikan syarat masuk SD. Anak seharusnya mendapatkan kesempatan untuk belajar sesuai tahap perkembangannya, bukan justru dibebani tuntutan akademik sebelum waktunya. Dari sini kita bisa melihat bahwa kebijakan pendidikan ternyata ikut memengaruhi cara orang tua mengasuh dan mempersiapkan anak.

Jadi, Parenting itu Tanggung Jawab Siapa?

Orang tua memang punya peran utama dalam membesarkan anak. Namun, kemampuan orang tua dalam memberikan pengasuhan yang baik juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Misalnya, harga bahan makanan yang memengaruhi pemenuhan gizi anak, kebijakan pendidikan yang menentukan akses dan proses belajar anak, hingga ketersediaan fasilitas kesehatan yang dibutuhkan keluarga. Hal-hal seperti ini menunjukkan bahwa pengasuhan bukan hanya soal bagaimana orang tua mendidik anak di rumah, tetapi juga tentang apakah lingkungan sudah cukup mendukung mereka. Bukan berarti semua masalah keluarga disebabkan oleh kebijakan pemerintah, tetapi kebijakan dan kondisi sosial memang ikut membentuk pilihan yang dimiliki keluarga. Jadi, mungkin kita perlu mengubah pertanyaannya. Bukan hanya "Kenapa orang tuanya tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anak?", tetapi juga "Apakah lingkungan kita sudah cukup mendukung orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya?"

Sources:

- [SSGI 2024: Prevalensi Stunting Nasional Turun Menjadi 19,8% (Kemenkes)](https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/ssgi-2024-prevalensi-stunting-nasional-turun-menjadi-198/)

- [Capaian SSGI 2024 Ungkap Tren Positif (Kemenkes)](https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/capaian-ssgi-2024-ungkap-tren-positif/)

- [BPS: Cabai Merah, Minyak Goreng, dan Beras Jadi Pendorong Inflasi Mei 2026 (Bisnis.com)](https://ekonomi.bisnis.com/read/20260602/9/1977753/bps-cabai-merah-minyak-goreng-dan-beras-jadi-pendorong-inflasi-mei-2026)

- [Harga Pangan Masih Jadi Pemicu Utama Inflasi April 2026 (Bisnis.com)](https://ekonomi.bisnis.com/read/20260505/12/1971490/harga-pangan-masih-jadi-pemicu-utama-inflasi-april-2026)

- [Mendikdasmen Umumkan Perubahan PPDB Jadi SPMB (NU Online)](https://nu.or.id/nasional/mendikdasmen-umumkan-perubahan-ppdb-jadi-spmb-zonasi-diganti-dengan-jalur-domisili-RSkD8)

- [Kemendikdasmen Tegaskan SPMB SD Dilarang Tes Calistung (Gebrak.id)](https://www.gebrak.id/2026/05/kemendikdasmen-tegaskan-spmb-sd.html)

- [Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan (Merdeka Belajar, Kemdikbud)](https://merdekabelajar.kemdikbud.go.id/upload/file/267_1680083007.pdf)