Nanti Dulu, Aku Belum Siap

07.26

 

Sumber: Magnific


Pernah nggak sih kamu punya sesuatu yang sebenarnya penting buat dikerjakan, tetapi malah milih rebahan, buka TikTok, nonton satu episode yang akhirnya jadi lima episode, atau tiba-tiba merasa kamar harus dibersihkan dulu? Padahal, di kepala kamu tetap ada pikiran yang terus bisikin, “Ini harus dikerjain.” Anehnya, semakin deket sama deadline, bukannya semakin tenang, kita malah semakin panik.

Kalau pernah mengalami hal seperti itu, kemungkinan kamu sedang melakukan procrastination atau prokrastinasi. Prokrastinasi bukan sekadar menunda karena kita memang punya prioritas lain. Steel (2007) menjelaskan prokrastinasi sebagai bentuk kegagalan regulasi diri ketika seseorang secara sukarela menunda sesuatu yang sebenarnya sudah berniat dilakukan, meskipun tahu bahwa penundaan tersebut dapat membawa konsekuensi yang buruk. Jadi, kita sebenarnya tahu tugas itu penting. Kita juga tahu menundanya mungkin akan membuat keadaan lebih sulit. Tetapi entah kenapa, tetap saja muncul pikiran, “Nanti aja.”

Menariknya, kebiasaan menunda bisa terasa semakin relevan ketika kita memasuki usia 20-an. Di satu sisi, kita mulai dituntut untuk mengambil keputusan yang lebih serius. Mau kerja di mana? Mau melanjutkan kuliah atau tidak? Mau tinggal dengan orang tua atau mulai hidup sendiri? Hubungan ini mau dibawa ke mana? Apakah pekerjaan yang sekarang memang sesuatu yang ingin dijalani dalam jangka panjang? Di sisi lain, kita sendiri mungkin belum benar-benar tahu jawabannya.

Kenapa sih usia 20-an gampang bikin kita merasa “stuck”?

Jeffrey Arnett menyebut periode dari akhir masa remaja hingga usia 20-an sebagai emerging adulthood. Pada fase ini, seseorang sedang banyak mengeksplorasi identitas, pekerjaan, hubungan, nilai hidup, sampai seperti apa kehidupan yang ingin dijalani di masa depan (Arnett, 2000). Artinya, usia 20-an memang bukan fase ketika semua orang otomatis sudah punya jawaban tentang hidupnya. Justru, banyak hal masih sedang dicoba dan dipertimbangkan.

Masalahnya, kebebasan untuk memilih juga datang bersamaan dengan banyak ketidakpastian.

Kita bisa punya banyak pilihan, tetapi justru bingung harus memilih yang mana. Mau melamar pekerjaan, tetapi takut ditolak. Mau pindah bidang, tetapi takut salah keputusan. Mau mulai skripsi, tetapi merasa hasilnya nanti ngga cukup bagus. Mau membuat sesuatu, tetapi takut dibandingkan dengan orang lain yang kelihatannya sudah jauh lebih hebat.

Ketidakpastian seperti ini juga menjadi salah satu bagian yang sering muncul dalam pengalaman quarter life crisis. Penelitian Azzyati dan Hasanat (2026) terhadap emerging adults di Indonesia menggambarkan quarter life crisis sebagai kondisi yang dapat melibatkan kebingungan dalam eksplorasi identitas, perasaan tidak berdaya, serta kecemasan menghadapi masa depan. Dalam penelitian tersebut, kesulitan menghadapi ketidakpastian juga berkaitan dengan pengalaman quarter life crisis.

Jadi, ketika seseorang berkata, “Aku tahu harus mulai, tapi aku takut,” mungkin masalahnya bukan sekadar kurang disiplin.

Kadang kita menunda karena tugas di depan kita membawa emosi yang sebenarnya ingin kita hindari.

Mungkin kita bukan malas, kita cuma sedang menghindari rasa nggak nyaman

Bayangkan kamu harus mulai mengerjakan skripsi. Begitu membuka laptop, langsung muncul pikiran, “Kalau ternyata aku ngga bisa gimana?” atau “Kayaknya masih banyak banget yang harus dikerjakan.”

Akhirnya kamu buka Instagram sebentar dan pasti itu rasanya lebih enak.

Skripsi memang belum selesai, tetapi setidaknya selama beberapa menit kamu nggak perlu memikirkan rasa takut, bingung, atau tertekan tadi.

Hal seperti inilah yang dijelaskan Sirois dan Pychyl (2013), bahwa prokrastinasi sangat berkaitan dengan regulasi emosi jangka pendek. Ketika suatu tugas terasa tidak menyenangkan, membosankan, sulit, atau membuat kita cemas, menghindarinya dapat membuat suasana hati terasa lebih baik untuk sementara. Masalahnya, konsekuensi dari keputusan tersebut kemudian harus ditanggung oleh “diri kita di masa depan”.

Makanya, prokrastinasi kadang terasa sangat masuk akal saat sedang dilakukan.

“Aku istirahat dulu supaya nanti lebih fokus.”

“Besok aja, sekarang lagi nggak mood.”

“Nanti kalau sudah yakin baru aku mulai.”

Padahal, “nanti” yang kita tunggu itu belum tentu datang dengan versi diri yang tiba-tiba lebih berani, lebih produktif, dan lebih siap menghadapi semuanya.

Justru tugas yang ditunda sering kali tetap berada di kepala. Kita sedang nonton, tetapi ingat tugas. Sedang nongkrong, tetapi kepikiran deadline. Mau tidur, tetapi mulai menghitung berapa jam yang tersisa untuk mengerjakannya.

Akhirnya, kita memang berhasil menghindari rasa tidak nyaman untuk beberapa saat, tetapi harus membayarnya dengan tekanan yang lebih besar setelahnya.

Semakin takut gagal, semakin sulit untuk mulai

Di usia 20-an, prokrastinasi juga bisa muncul karena kita merasa keputusan yang diambil menentukan seluruh masa depan.

Kita ingin memilih pekerjaan yang “tepat”. Ingin punya karier yang bagus. Ingin mendapatkan nilai yang tinggi. Ingin proyek pertama langsung berhasil. Akibatnya, standar untuk mulai menjadi terlalu tinggi.

Kita merasa harus yakin dulu baru bergerak. Harus punya rencana lengkap dulu baru mencoba. Harus merasa siap dulu baru mengirim lamaran. Padahal, menunggu sampai semuanya terasa sempurna justru bisa membuat kita nggak bergerak ke mana-mana.

Steel (2007) menemukan bahwa prokrastinasi berkaitan cukup konsisten dengan beberapa hal seperti rendahnya keyakinan terhadap kemampuan diri, tugas yang dianggap tidak menyenangkan, impulsivitas, serta kesulitan dalam pengendalian diri. Jadi, masalah prokrastinasi memang jauh lebih kompleks daripada sekadar seseorang “ngga niat”.

Di sinilah quarter life crisis dan prokrastinasi bisa terasa saling tumpang tindih. Ketidakpastian tentang masa depan dapat membuat suatu keputusan terasa semakin berat, sementara prokrastinasi menawarkan jalan keluar sementara dari emosi yang tidak nyaman tersebut.

Tetapi penting juga untuk membedakan keduanya. Penelitian yang ada belum cukup untuk menyimpulkan bahwa quarter life crisis secara langsung menyebabkan seseorang menjadi prokrastinator. Bahkan sebuah studi kecil terhadap mahasiswa di Indonesia menemukan hubungan positif antara prokrastinasi akademik dan quarter life crisis, tetapi hubungannya tidak signifikan secara statistik (Ramadhani & Putrie, 2023). Jadi, lebih tepat melihat keduanya sebagai pengalaman yang dapat muncul bersamaan daripada mengatakan bahwa salah satunya pasti menyebabkan yang lain.

Masalahnya, prokrastinasi ngga selalu berhenti di deadline

Sesekali menunda pekerjaan tentu bukan berarti hidup kita langsung berantakan. Hampir semua orang pernah melakukannya. Yang perlu diperhatikan adalah ketika penundaan mulai menjadi pola yang berulang.

Penelitian Johansson et al. (2023) terhadap 3.525 mahasiswa di Swedia menemukan bahwa tingkat prokrastinasi yang lebih tinggi berkaitan dengan beberapa kondisi kesehatan yang lebih buruk sembilan bulan kemudian, termasuk gejala depresi, kecemasan, stres, kualitas tidur yang buruk, kurangnya aktivitas fisik, kesepian, dan kesulitan ekonomi. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan, bukan berarti setiap orang yang menunda pekerjaan pasti akan mengalami semua masalah tersebut. Namun, temuan tersebut cukup menunjukkan bahwa kebiasaan prokrastinasi tidak selalu sesederhana “nanti juga selesai”.

Penelitian longitudinal lain dari Jochmann et al. (2024) juga menemukan bahwa prokrastinasi pada mahasiswa dapat memprediksi peningkatan gejala depresi dan kecemasan dari waktu ke waktu. Menariknya, penelitian tersebut tidak menemukan bahwa stres menjadi penjelasan utama dari hubungan tersebut. Artinya, hubungan antara prokrastinasi dan kesehatan mental ternyata cukup kompleks dan masih terus dipelajari.

Penelitian Sirois, Stride, dan Pychyl (2023) juga menunjukkan bahwa prokrastinasi kronis berkaitan dengan stres yang lebih tinggi dan perilaku kesehatan yang kurang baik. Dalam penelitian tersebut, stres menjadi salah satu jalur penting yang menghubungkan kebiasaan prokrastinasi dengan masalah kesehatan.

Jadi, masalah sebenarnya bukan satu malam begadang karena tugas yang belum selesai. Yang perlu diperhatikan adalah ketika pola “takut → menunda → lega sebentar → panik → menyalahkan diri sendiri” terus terjadi.

Terus, gimana caranya berhenti menunda?

Mungkin hal pertama yang perlu diubah adalah anggapan bahwa kita harus merasa termotivasi sebelum mulai. Kenyataannya, motivasi ngga selalu datang duluan. Kadang kita justru harus mulai sedikit supaya motivasi muncul setelahnya. Daripada berkata, “Malam ini aku harus menyelesaikan skripsi,” kita bisa memperkecil target menjadi, “Aku cuma perlu buka dokumennya dan menulis satu paragraf.” Daripada menargetkan langsung mendapat pekerjaan, target hari ini mungkin cukup memperbaiki satu bagian CV dan mengirim satu lamaran.

Semakin abstrak sebuah tugas, semakin mudah kita merasa kewalahan. Karena itu, mengubah rencana menjadi tindakan yang sangat spesifik dapat membantu. Bukan “nanti aku belajar”, tetapi “jam tujuh malam aku akan membuka materi Bab 3 dan belajar selama 20 menit.". Pendekatan seperti ini sejalan dengan penelitian mengenai implementation intentions, yaitu membuat rencana yang jelas mengenai kapan, di mana, dan bagaimana sebuah tindakan akan dilakukan. Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa membuat rencana tindakan yang konkret dapat membantu seseorang lebih mungkin menjalankan niatnya dibandingkan hanya memiliki niat umum (Owens, Bowman, & Dill, 2008).

Dan kalau prokrastinasi sudah sangat mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan juga bukan pilihan yang berlebihan. Tinjauan sistematis dan meta-analisis oleh Rozental et al. (2018) menemukan bahwa intervensi psikologis memberikan manfaat dalam mengurangi prokrastinasi, dengan temuan yang cukup menjanjikan khususnya pada pendekatan cognitive behavioral therapy atau CBT, meskipun jumlah penelitian saat itu masih terbatas.

Pada akhirnya, keluar dari prokrastinasi mungkin bukan tentang berubah menjadi seseorang yang produktif setiap saat. Kadang yang kita butuhkan justru lebih sederhana yaitu berhenti menunggu diri sendiri merasa 100 persen siap. Karena di usia 20-an, kita mungkin memang belum tahu pasti akan menjadi siapa lima atau sepuluh tahun lagi. Kita mungkin masih bingung menentukan karier, masih mencoba memahami diri sendiri, atau masih takut mengambil keputusan yang salah. Tetapi ketidakpastian itu nggak harus membuat kita berhenti bergerak. 

Kita ngga perlu mengetahui seluruh jalan untuk mengambil satu langkah berikutnya. Dan mungkin, dibanding terus bertanya, “Bagaimana kalau aku salah?”, kita bisa mulai dengan pertanyaan yang lebih kecil yaitu “Apa satu hal yang bisa aku kerjakan hari ini?”


Referensi

Arnett, J. J. (2000). Emerging adulthood: A theory of development from the late teens through the twenties. American Psychologist, 55(5), 469–480. DOI: 10.1037/0003-066X.55.5.469.

Azzyati, R. A., & Hasanat, N. U. (2026). Quarter-life crisis ditinjau dari intoleransi ketidakpastian pada emerging adult dengan coping religius sebagai moderator. Jurnal Psikologi Integratif, 13(2), 186–212. DOI: 10.14421/jpsi.v13i2.3410.

Jochmann, A., Gusy, B., Lesener, T., & Wolter, C. (2024). Procrastination, depression and anxiety symptoms in university students: A three-wave longitudinal study on the mediating role of perceived stress. BMC Psychology, 12, 276. DOI: 10.1186/s40359-024-01761-2.

Johansson, F., Rozental, A., Edlund, K., et al. (2023). Associations between procrastination and subsequent health outcomes among university students in Sweden. JAMA Network Open, 6(1), e2249346. DOI: 10.1001/jamanetworkopen.2022.49346.

Owens, S. G., Bowman, C. G., & Dill, C. A. (2008). Overcoming procrastination: The effect of implementation intentions. Journal of Applied Social Psychology, 38(2), 366–384. DOI: 10.1111/j.1559-1816.2007.00309.x.

Ramadhani, A., & Putrie, C. A. R. (2023). The relationship of student academic procrastination to quarter life crisis: Case study of Economic Education students of Universitas Panca Sakti Bekasi class of 2020 to 2022. FOCUS, 4(2), 112–116. DOI: 10.37010/fcs.v4i2.1263.

Rozental, A., Bennett, S., Forsström, D., Ebert, D. D., Shafran, R., Andersson, G., & Carlbring, P. (2018). Targeting procrastination using psychological treatments: A systematic review and meta-analysis. Frontiers in Psychology, 9, 1588. DOI: 10.3389/fpsyg.2018.01588.

Sirois, F. M., & Pychyl, T. A. (2013). Procrastination and the priority of short-term mood regulation: Consequences for future self. Social and Personality Psychology Compass, 7(2), 115–127. DOI: 10.1111/spc3.12011.

Sirois, F. M., Stride, C. B., & Pychyl, T. A. (2023). Procrastination and health: A longitudinal test of the roles of stress and health behaviours. British Journal of Health Psychology, 28(3), 860–875. DOI: 10.1111/bjhp.12658.

Steel, P. (2007). The nature of procrastination: A meta-analytic and theoretical review of quintessential self-regulatory failure. Psychological Bulletin, 133(1), 65–94. DOI: 10.1037/0033-2909.133.1.65.