Mentari Jiwa
Halo semuanya, selamat datang di Mentari Jiwa! Blog ini adalah tempat bagiku sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen menceritakan berbagai hal seru yang berhubungan dengan isu-isu khususnya tentang keluarga, anak, konsumen, selain itu, aku juga bakal cerita mengenai self development, psikologi, human capital, bagaimana kita bisa menjadi versi terbaik diri sendiri, bagaimana kita mengerti pikiran kita, dll. Ga perlu formal, kita pake bahasa santai aja ya? Selamat membaca temen-temen!
rohimajanah
gambar saya
Mengenai Saya
- rohimatuljanah
- Hallo! Nama saya Rohimatul Janah, Saya masih menjadi seorang pembelajar sejati yang sedang berproses menggapai cita-citanya dan berusaha menolong banyak orang^^
Peran Pemuda untuk Masyarakat Berdaya: Membedah Konsep YOLO
| Sumber: Freepik.com |
Sebagai pemuda, seringkali mendengar anggapan dari pemuda lain bahwa mencoba sesuatu yang baru dalam hidup itu sungguh menyenangkan. Pemuda seringkali merasa memiliki hidup yang bebas ingin menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang tanpa arti. Saat ini, ada istilah yang relevan dengan fenomena yang terjadi pada pemuda, yaitu YOLO. YOLO adalah singkatan dari "You Only Live Once" yang dalam bahasa Indonesia berarti "kamu hanya hidup sekali". Istilah ini sering digunakan untuk mendorong seseorang untuk menikmati hidup dan berani mengambil kesempatan, karena hidup hanya terjadi sekali. YOLO juga sering digunakan untuk mendukung tindakan yang dianggap berani atau ekstrim.
Dalam konteks negatif, YOLO seringkali membuat pemuda mengambil tindakan-tindakan yang berdampak negatif baik pada dirinya maupun pada orang lain. Misalnya, beberapa pemuda pada awalnya hanya coba-coba untuk merasakan sensasi merokok untuk pertama kalinya tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang. Pada akhirnya, menjadi kecanduan rokok karena di dalam rokok terdapat zat nikotin yang membuat penggunanya kecanduan. Contoh fenomena tersebut membuktikan bahwa konteks YOLO dalam hal negatif sangat patut untuk dihindari. Pada awalnya hanya ingin coba karena untuk sekali dalam seumur hidup, pada akhirnya terbawa arus dan memiliki dampak negatif seumur hidup.
Dari YOLO konteks negatif tersebut, membuat beberapa pemuda menggunakan istilah YOLO untuk konteks positif. Dalam konteks positif, YOLO bisa memotivasi seseorang untuk mengambil peluang, meraih mimpi, dan melakukan hal-hal yang bermanfaat selama masih bisa. Orang-orang yang memegang prinsip ini sering beranggapan bahwa "hidup hanya sekali, sehingga manfaatkan dengan hal-hal yang berarti". Pemuda yang masih berstatus pelajar atau mahasiswa, selain memanfaatkan waktu selama hidup dengan belajar dengan tekun dan baik, bisa melakukan beberapa kegiatan yang positif untuk menambah keberartian hidup. Pemuda bisa memberikan dampak nyata untuk masyarakat dimulai dari langkah-langkah sederhana. Misalnya, memberikan kontribusi positif dengan melakukan kerja bakti, memberikan edukasi tentang kebersihan, memberikan edukasi tentang materi sesuai dengan pembelajaran di kampus, atau contoh lainnya.
| Sumber: Dokumentasi pribadi 07/09/2024 |
Pada gambar tersebut, mahasiswa Ilmu Kelurga dan Konsumen memberikan edukasi kepada masyarakat terkait dengan cara stimulasi motorik halus kepada anak usia dini, memberikan pembelajaran pengelolaan emosi kepada anak remaja, memberikan edukasi tips menjadi ibu rumah tangga yang baik dan ideal, memberikan edukasi kepada lanjut usia, serta beberapa kegiatan tambahan lainnya.
Dari beberapa penjelasan di atas, istilah YOLO tidak selalu berimplikasi negatif, tetapi dapat berimplikasi positif. Hidup hanya sekali, maka hiduplah dengan menebar kebermanfaatan dan setiap aksi yang dilakukan memiliki arti.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Tuntutan Tinggi, Penghargaan Rendah: Realita Guru Indonesia
| sumber: Freepik.com |
Pendidikan adalah salah satu hal penting dalam kehidupan. Pendidikan dapat mengubah pola pikir seseorang, memperbaiki kondisi perekonomian, dan meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh. Melalui pendidikan, seseorang tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan nilai-nilai yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan hidup. Namun, kualitas pendidikan tentu tidak lepas dari peran seorang guru. Guru adalah sosok yang membimbing, mengarahkan, dan memberi inspirasi kepada generasi muda. Oleh karena itu, kesejahteraan guru seharusnya menjadi prioritas utama dalam pembangunan pendidikan di Indonesia.
Sayangnya, di Indonesia, kesejahteraan guru masih menjadi persoalan yang mendesak dan perlu perhatian yang serius. Banyak guru, khususnya guru honorer, menerima gaji yang jauh dari kata layak. Bahkan ada yang hanya dibayar dibawah Upah Minimum Regional (UMR) yang biasanya dibayar di bawah satu juta rupiah per bulan. Jumlah ini tentu tidak sebanding dengan tanggung jawab guru dalam mendidik generasi penerus bangsa.
Rendahnya gaji tersebut menjadi beban tersendiri, terutama di tengah meningkatnya biaya hidup dari tahun ke tahun. Di sisi lain, kesempatan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang dianggap gajinya lebih menjamin juga sangat terbatas dan penuh persaingan. Akibatnya, banyak guru yang tetap bertahan dalam kondisi tidak sejahtera demi dedikasi terhadap dunia pendidikan. Kurangnya kesejahteraan berdampak langsung pada semangat dan kualitas pengajaran. Banyak guru yang bekerja hanya sebagai formalitas karena imbalannya yang tidak sebanding dengan beban kerja. Selain itu, banyak guru pula yang terpaksa mencari pemasukan tambahan melalui pekerjaan tambahan. Padahal, profesi menjadi guru sudah menyita banyak waktu yang jika diperkirakan rata-rata waktu seorang guru mengajar dalam seminggu adalah 24 jam pelajaran dan memungkinkan pula guru menjadi pelatih atau pembina dalam ekstrakurikuler. Belum lagi, permasalahan fasilitas di mayoritas sekolah terpencil di Indonesia seperti ruang kelas yang tidak layak, kurangnya akses internet, atau bisa juga kurangnya bahan ajar. Hal ini tentu dapat memengaruhi kinerja guru dan kualitas pendidikan Indonesia.
Permasalahan-permasalahan yang telah disebutkan menunjukkan kesejahreaan guru di Indonesia masih rendah, khususnya dalam segi kesejahteraan ekonomi. Padahal, guru yang sejahtera akan lebih fokus dan termotivasi dalam memberikan pendidikan terbaik. Sebaliknya, jika guru tidak sejahtera dan merasa tidak dihargai serta tertekan, cenderung kurang termotivasi dalam mengajar. Oleh karena itu, diperlukan solusi untuk meningkatkan kesejahteraan guru demi kemajuan pendidikan di Indonesia.
Cara yang dapat dilakukan bisa dengan menaikkan gaji dan tunjangan, mengurangi beban kerja, meningkatkan penghargan dan pengakuan, menciptakan lingkungan kerja yang mendukung termasuk dari segi fasilitas, kemudian bisa juga dengan meningkatkan akses pelatihan dan pengembangan profesional agar guru di Indonesia menjadi semakin berkualitas.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Benarkah Pendidikan di Indonesia Masih Kurang Holistik? Ini Faktanya!
| Source: freepik.com |
Apakah kamu pernah mendapatkan ranking saat SD, SMP, atau SMA? Wah, selamat! Itu artinya kamu termasuk dalam daftar siswa berprestasi di sekolah. Tapi, tahukah kamu bahwa sistem ranking ternyata bisa berdampak negatif pada perkembangan anak? Pendidikan yang hanya berfokus pada akademik dapat membuat siswa merasa bahwa belajar hanyalah tentang kompetisi, bukan tentang eksplorasi dan pengembangan diri. Apakah ada alternatif solusinya? hal ini mungkin dapat diatasi dengan menerapkan konsep pendidikan holistik secara inklusif di Indonesia. Namun, apakah pendidikan yang hanya berfokus pada akademik sudah cukup untuk membentuk individu yang siap menghadapi masa depan? Dunia terus berkembang, dan tantangan di masa depan bukan hanya soal nilai ujian, tetapi juga keterampilan berpikir kritis, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi. Oleh karena itu, muncul gagasan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya mengasah kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk manusia secara utuh. Konsep ini dikenal sebagai pendidikan holistik.
Apa Itu Pendidikan Holistik?
Pendidikan holistik adalah konsep pendidikan yang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga mengembangkan seluruh potensi siswa secara harmonis, meliputi potensi intelektual, emosional, fisik, sosial, estetika, dan spiritual. Menurut John Dewey, seorang filsuf pendidikan, pendidikan harus membentuk manusia seutuhnya, bukan hanya sekadar mengasah kecerdasan intelektual. Konsep ini juga didukung oleh teori taksonomi Bloom, yang membagi pembelajaran ke dalam tiga aspek utama:
Kognitif: Berhubungan dengan kecerdasan akademik dan berpikir kritis.
Psikomotor: Mengembangkan keterampilan fisik dan kreativitas.
Afektif: Berkaitan dengan moral, empati, dan keterampilan sosial.
Apakah Indonesia Sudah Menerapkan Pendidikan Holistik?
Di Indonesia, walaupun belum seluruhnya menerapkan konsep pendidikan berbasis karakter, tetapi terdapat beberapa sekolah yang telah menerapkan konsep ini. Salah satu contohnya adalah Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK) yang dikembangkan oleh Indonesia Heritage Foundation (IHF). Program ini mengajarkan anak-anak tentang kecerdasan emosional, etika, dan keterampilan hidup selain pelajaran akademik. Selain itu, sekolah berbasis pendidikan karakter seperti Sekolah Alam Indonesia (SAI) dan Green School Bali juga telah menerapkan konsep pendidikan holistik dalam kurikulumnya.
Masih minimnya jumlah sekolah yang menerapkan konsep pendidikan holistik, sebagian besar sistem pendidikan di Indonesia masih mengutamakan nilai ujian sebagai indikator utama kesuksesan siswa. Sistem ini sering kali membuat anak-anak merasa tertekan dan kurang mengeksplorasi bakat mereka di bidang non-akademik.
Bagaimana Jika Indonesia Menerapkan Pendidikan Holistik Secara Luas?
Jika pendidikan holistik diterapkan secara menyeluruh, siswa akan lebih siap menghadapi tantangan masa depan. Mereka tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kreativitas, empati, dan keterampilan praktis.
Beberapa negara telah menerapkan pendidikan holistik dan terbukti memiliki sistem pendidikan yang lebih baik dan mampu mencetak generasi yang inovatif. Jika Indonesia berani beralih ke sistem ini, bukan tidak mungkin kita bisa menjadi negara maju dengan sumber daya manusia yang lebih berkualitas.
Jadi, apakah kamu setuju jika sistem pendidikan Indonesia perlu lebih holistik? Yuk, diskusi di kolom komentar! Widyastono, H. (2012). Muatan Pendidikan Holistik dalam Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 18(4), 467-476. https://doi.org/10.24832/jpnk.v18i4.102.
Sumber lainnya berasal dari bahan materi kuliah Mata Kuliah Pendidikan Holistik pada Ilmu Keluarga dan Konsumen, IPB University.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Generasi Z dan Tantangan Dunia Kerja Masa Depan
| Sumber: Freepik.com |
Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997–2012, tumbuh di tengah perkembangan pesat teknologi digital. Sebagai generasi yang akrab dengan internet sejak dini, karakteristik ini membentuk pola kerja dan ekspektasi yang unik di dunia kerja. Namun, tantangan di masa depan tetap membutuhkan strategi untuk dihadapi.
Tips untuk Perusahaan:
Ciptakan lingkungan kerja yang suportif, dengan hubungan yang baik antara rekan kerja dan pimpinan.
Sediakan peluang pengembangan diri melalui pelatihan atau program pendidikan.
Berikan penghargaan atas kinerja yang baik untuk meningkatkan motivasi.
Dengan memahami kebutuhan dan tantangan ini, Generasi Z tidak hanya siap menghadapi masa depan, tetapi juga dapat menjadi inovator dan pemimpin di dunia kerja.
Daftar Pustaka
Yuli Fajriyanti, Asmadhini Handayani Rahmah, Sofia Ulfa Eka Hadiyanti. (2023). Analisis Motivasi Kerja Generasi Z yang Dipengaruhi oleh Lingkungan Kerja dan Komitmen Kerja. Journal of Trends Economics and Accounting Research, Vol. 4, No. 1, 107-115.
Pramitha Kusuma Putri. (2024). Gen Z di Dunia Kerja: Kepribadian dan Motivasi Jadi Penentu Produktivitas Kerja. Akademik: Jurnal Mahasiswa Ekonomi & Bisnis, Vol. 4, No. 1, 30-38.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pentingnya Kecerdasan Emosi bagi Mahasiswa
| Sumber: Freepik.com |
Pernah nggak sih merasa hidup jadi mahasiswa tuh kayak naik rollercoaster? Ada tugas yang nggak ada habisnya, tuntutan organisasi, drama sama temen, sampai tantangan buat jaga kesehatan mental. Nah, buat bisa “survive” di tengah semua itu, ada satu skill yang super penting nih: kecerdasan emosional alias EQ. Bayangin aja, kalau akademik itu “hard skill,” maka EQ adalah “soft skill” yang bikin kita bisa jaga mood, fokus, dan tetep asyik bergaul sama siapa aja di kampus. Yuk, bahas gimana caranya ningkatin EQ ala mahasiswa.
Apa Itu Kecerdasan Emosional?
Sederhananya, kecerdasan emosional adalah kemampuan buat ngerti, ngerasain, dan ngatur emosi, baik emosi sendiri maupun orang lain. Menurut psikolog Daniel Goleman, EQ ini ada beberapa elemen utama: kesadaran diri (self-awareness), manajemen emosi (self-regulation), empati, motivasi, dan skill sosial.
Nah, kenapa EQ penting buat mahasiswa? Soalnya, dengan EQ yang tinggi, kita bisa lebih santai menghadapi stres, lebih jago mengatur konflik, dan nggak gampang goyah kalau lagi ada masalah. Yuk, intip tips-tips praktis biar EQ kita makin terasah!
1. Self-Awareness: Kenali Emosi Diri Sendiri Dulu
Coba deh, mulai biasakan buat berhenti sejenak dan tanya ke diri sendiri: “Aku lagi ngerasa apa, sih?” Kebanyakan dari kita mungkin sering banget cuek sama emosi sendiri, padahal ini langkah awal buat ngatur perasaan.
Misalnya, kamu lagi stress banget mau presentasi. Coba tanya diri sendiri, “Kenapa aku deg-degan? Apakah aku takut nggak siap?” Dengan mengenali perasaan, kita jadi bisa ngatur respons. Kalau udah paham sumbernya, kamu bisa tenangin diri dengan tarik napas dalam, dengerin lagu favorit, atau ajak ngobrol temen buat ngeluarin unek-unek. Makin kenal sama emosi sendiri, makin gampang juga buat ngatur diri!
2. Self-Regulation: Atur Emosi Biar Nggak Mudah Baper
Baper alias “bawa perasaan” itu wajar, tapi jangan sampai jadi kebiasaan. Misal, kalau kamu dapet kritik dari dosen atau temen, jangan langsung down atau marah. Coba liat kritikan itu sebagai feedback yang bisa bantu kita jadi lebih baik.
Praktikkan “time out” sederhana setiap kali emosi memuncak. Biar nggak meledak-ledak, tarik napas dalam-dalam dan coba pahami dulu situasinya. Kadang dengan kasih jeda sedikit aja, kita bisa berpikir lebih jernih dan nggak gampang kebawa emosi.
3. Empati: Dengarkan Teman Tanpa Terburu-Buru Ngasih Solusi
Empati itu kayak “superpower” buat membangun hubungan yang lebih solid. Coba deh dengerin temen yang lagi curhat tanpa buru-buru kasih saran atau solusi. Kadang, mereka cuma pengen didengerin, bukan dikasih nasihat.
Misalnya, kalau ada temen yang lagi galau soal skripsi, dengerin aja dulu tanpa nyela atau ngasih saran. Berempati bikin kita jadi temen yang lebih pengertian dan bikin hubungan jadi lebih hangat. Nggak cuma bikin temen nyaman, empati juga bikin kita lebih peka sama sekitar.
4. Pake Humor Buat Ngalahin Stres
Stres adalah “menu harian” mahasiswa, tapi bisa kita atasi dengan cara yang asyik, yaitu humor. Misalnya, habis ujian atau tugas berat, coba bikin TikTok lucu bareng temen atau ketawa-ketiwi ngeliat video lucu. Dengan humor, suasana hati bisa lebih ringan, dan kita pun lebih enjoy jalanin rutinitas.
Coba cari hal-hal lucu atau menarik dari situasi yang kita alami. Ternyata, humor bukan cuma bikin kita lebih happy, tapi juga membantu kita buat lebih fleksibel menghadapi masalah.
5. Self-Motivation: Tetap Termotivasi dengan Nge-Set Goals Kecil
Kadang motivasi tuh gampang hilang, apalagi kalau banyak tugas yang bikin pusing. Supaya tetep termotivasi, coba buat goals kecil setiap hari, kayak “hari ini mau ngerjain 2 soal latihan,” atau “mau baca 1 bab aja dulu.”
Setelah nyelesain goal, kasih self-reward kecil, misalnya nonton episode serial favorit atau ngopi bareng temen. Dengan ngasih target-target kecil yang gampang dicapai, motivasi bisa tetap terjaga dan nggak gampang hilang.
Kesimpulan: EQ, Kunci Sukses yang Sering Terabaikan
Sebagai mahasiswa, kecerdasan emosional adalah senjata rahasia buat ngadepin tantangan kuliah, pertemanan, dan dunia luar. Dengan mengasah EQ, kita jadi lebih tangguh, bijak, dan punya kontrol diri yang baik dalam situasi apapun. Nggak cuma soal pintar di akademik, EQ yang tinggi bikin kita bisa menikmati hidup kampus yang lebih seimbang.
Jadi, mulai sekarang yuk asah EQ dari hal-hal kecil! Coba praktekin cara di atas dan rasakan bedanya. Nggak cuma bikin hidup lebih tenang, tapi juga lebih bahagia dan bermakna.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Hidup Lebih Tenang dengan Mindfulness: Syukuri Setiap Momen yang Allah Beri
| Gambar: Freepik |
Kamu pernah nggak sih, ngerasa hidup ini kayaknya cepet banget berlalunya? Tiba-tiba aja hari udah selesai, tapi pikiran kamu masih sibuk memikirkan banyak hal. Kita sering terjebak di masa depan atau masa lalu, padahal yang benar-benar kita punya itu adalah saat ini. Di sinilah pentingnya mindfulness, yaitu kesadaran penuh untuk hadir dan menikmati momen saat ini. Tapi nggak cuma itu, mindfulness juga bisa jadi cara kita lebih dekat dengan Allah, lho.
Mindfulness dalam Islam bisa dihubungkan dengan khusyu’, yaitu sikap hati yang penuh kesadaran dan ketenangan. Khusyu’ nggak cuma ada di dalam shalat, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Saat kita menjalani hidup dengan lebih sadar, kita jadi lebih peka dengan nikmat Allah, lebih bersyukur, dan nggak gampang stres dengan hal-hal yang belum tentu terjadi.
Bersyukur di Setiap Langkah
Salah satu cara paling sederhana untuk menjalani mindfulness adalah dengan bersyukur. Sering kali kita terlalu fokus pada hal-hal yang belum kita capai, sampai lupa mensyukuri apa yang sudah kita punya sekarang. Padahal, bersyukur atas nikmat kecil yang Allah berikan, seperti udara yang kita hirup, waktu bersama keluarga, atau bahkan rezeki untuk makan hari ini, bisa bikin hati kita lebih tenang.
Dalam Islam, kita diajarkan untuk tafakur, yaitu merenung dan memikirkan kebesaran Allah. Tafakur ini membantu kita lebih hadir di momen saat ini, menyadari betapa banyak nikmat yang sering luput dari perhatian. Mindfulness dan tafakur sama-sama mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap kehadiran Allah dalam hidup kita.
Bikin Pikiran dan Tubuh Lebih Rileks
Mindfulness nggak cuma buat pikiran, tapi juga penting buat tubuh kita. Sadar nggak sih, kadang saat kita lagi kerja di depan laptop, tanpa kita sadari, otot-otot kita jadi tegang, alis mengernyit, dan bahu kita naik? Hal-hal kecil kayak gini bikin tubuh dan pikiran makin stres. Cobalah untuk lebih rileks saat bekerja, misalnya dengan merilekskan bahu dan leher kamu untuk lebih santai. Badan yang rileks bikin pikiran juga lebih tenang. Selain itu, bisa dicoba juga dengn jalan yang tenang, cuci piring dengan tenang, sholat dengan tenang tanpa tergesa-gesa. Cobalah untuk melakukan sesuatu secara perlahan dan nggak perlu buru-buru. Nikmati setiap langkah. Rasulullah SAW pun mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa, karena tergesa-gesa itu berasal dari setan.
Slow Living: Nikmati Proses, Bukan Cuma Hasil
Sekarang ini, ada tren yang namanya slow living, yaitu hidup dengan ritme yang lebih lambat dan penuh kesadaran. Slow living ini ngajarin kita untuk menikmati proses, nggak cuma fokus sama hasil akhir. Sebagai Muslim, kita percaya bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini sudah diatur oleh Allah. Jadi, kenapa harus terburu-buru dan memaksakan diri?
Dengan slow living, kita bisa tetap produktif tapi tanpa merasa dikejar-kejar. Hidup jadi lebih santai, tapi tetap bermakna. Kita jadi lebih bisa menikmati setiap detik yang Allah kasih, dan lebih bersyukur atas apa yang ada sekarang.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sering Merasa Tertinggal dengan Teman? Kamu Tidak Sendirian
Sumber: Freepik.com Pemuda, khususnya generasi Z, tidak dapat dipisahkan dari media sosia…
Peran Pemuda untuk Masyarakat Berdaya: Membedah Konsep YOLO
Sumber: Freepik.com Sebagai pemuda, seringkali mendengar anggapan dari pemuda lain …
Tuntutan Tinggi, Penghargaan Rendah: Realita Guru Indonesia
sumber: Freepik.com Pendidikan adalah salah satu hal penting dalam kehidupan. Pendidikan …
Benarkah Pendidikan di Indonesia Masih Kurang Holistik? Ini Faktanya!
Source: freepik.com Apakah kamu pernah mendapatkan ranking saat SD, SMP, atau SMA? …
Generasi Z dan Tantangan Dunia Kerja Masa Depan
Sumber: Freepik.com Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997–2012, tumbuh di tengah per…
Pentingnya Kecerdasan Emosi bagi Mahasiswa
Sumber: Freepik.com Pernah nggak sih merasa hidup jadi mahasiswa tuh kayak naik rollercoa…
Hidup Lebih Tenang dengan Mindfulness: Syukuri Setiap Momen yang Allah Beri
Gambar: Freepik Kamu pernah nggak sih, ngerasa hidup ini kayaknya cepet banget berlalunya…